Advertisement Advertisement
Tokoh
Home » Berita » Pramoedya, Sekali Lagi!

Pramoedya, Sekali Lagi!

Dengan puluhan buku karya sastra dan ratusan cerita pendek serta esai, yang sebagian diterjemahkan ke dalam semua bahasa utama di dunia serta beberapa bahasa lain di Asia dan Eropa. Pramoedya Ananta Toer menjadi penulis yang paling giat memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Bahkan selama beberapa tahun namanya disebut sebagai calon penerima Nobel.

Beberapa universitas di Amerika memberinya gelar doctor honoris causa. Pinggan dan piagam penghargaan menghiasi dinding dan meja kamar tamunya yang luas. Tapi hanya satu, mungkin dua, penghargaan yang berasal dari tanah kelahiran yang ia cintai dan perjuangkan, yakni bumi Indonesia. Pram mengabadikan seluruh usia produktifnya untuk mempelajari, berpikir dan menulis tentang Indonesia. Seusai perang yang memastikan keberadaan Indonesia secara politik dan hukum, ia angkat pena untuk merajut Indonesia menjadi kenyataan sosial.

Sejak 1956 ia mulai sibuk mempelajari sejarah negerinya dengan menjadi tamu tetap di perpustakaan Museum Nasional di Jakarta dan juga berkeliling Indonesia menemui orang untuk diwawancarai. Selama tiga tahun ia tidak banyak menulis. Sepertinya mengumpulkan tenaga dan mengerahkan pikiran untuk sebuah proyek besar.

Pada awal 1960 buku pertamanya mengenai sejarah terbit, Hoakiau di Indonesia. Buku itu sempat membuatnya mendekam di penjara selama setahun. Tulisannya menyentak. Sementara para pejabat saat itu berlomba menonjolkan “keaslian” dan mengobarkan permusuhan terhadap orang Tionghoa yang dianggap “asing”, Pram justru menyatakan bahwa darah Tionghoa mengalir deras dalam tubuh Indonesia. Bukan hanya di bidang perdagangan dan teknologi, di bidang sastra pun pengaruh Tionghoa peranakan sungguh besar.

Begitulah Pram, dengan caranya sendiri berusaha memahami Indonesia. Sementara banyak ilmuwan sibuk mengunyah teori dan pemikiran orang lain untuk berbicara, Pram memilih menyerap dan mencerna kenyataan lalu mengeluarkannya sebagai kenyataan baru.

Biografi Lengkap Lalu Muhamad Iqbal, Duta Besar RI untuk Turki

“Materi hulu ia hilirkan dalam benaknya, dengan kata ia membikin kenyataan baru. Dia bukan menjiplak kenyataan hulu, dia membikin kenyataan baru dengan kenyataan hilir.” Demikian pendapatnya mengenai tugas seorang penulis.

“Saya nggak ngerti teori,” kata Pram dalam sebuah wawancara.

Usaha mempelajari Indonesia mulai mendapat dorongan kuat setelah ia keluar dari penjara karena kasus Hoakiau. Tawaran mengajar di Universitas Res Publica mempertemukannya dengan puluhan mahasiswa yang memungkinkannya melanjutkan proyek penulisan sejarah yang kolosal itu.

Setiap semester, ia mengirim mahasiswanya mempelajari bahan-bahan sejarah di perpustakaan Museum Nasional, yang lambat-laun membantunya membangun sebuah perpustakaan sejarah yang luar biasa, dengan sekitar 5.000 judul buku, belum termasuk salinan surat kabar dan majalah lama, rekaman wawancara, arsip dan dokumen lainnya.

Dalam periode itu, ia mulai menyusun riwayat Indonesia secara sistematis. Tentu tidak semua setuju pada pikirannya, pun pada keinginannya untuk membangun Indonesia seperti yang dicita-citakannya. Dan inilah sumber polemik yang menghebohkan itu. Sejak 1962 lembar kebudayaan “Lentera” dalam harian Bintang Timur menjadi corong utamanya untuk bicara. Ia menggasak sastrawan dan tokoh kebudayaan yang tidak sepaham, menyudutkan mereka sebagai “agen imperialis”.

Sorban Sakti Mbah Wahab Chasbullah Taklukan Para Jawara Tanpa Berkelahi

Ia bahkan dituduh membunuh beberapa tokoh penting dalam sastra Indonesia dengan pena. Tapi jika melihat isi “Lentera” secara keseluruhan, maka jelas bahwa kecaman pedas dan polemik tajam itu adalah bagian dari kritik sejarah dan kebudayaan yang lebih luas. Setiap minggu ia menulis sekurangnya 40 halaman ketik rapat untuk Lentera, belasan halaman lain untuk studinya tentang berbagai aspek sejarah negerinya, seperti empat jilid Panggil Aku Kartini Sadja, studi tentang asal-usul sastra Indonesia dan studi tentang perkembangan bahasa Indonesia.

Di sini Pram merajut pengertiannya tentang Indonesia dan melahirkan sejumlah tesis penting yang tidak eksentrik mengenai asal-usul negerinya. Polemik dan serangan kadang menjadi keras dan bahkan kasar tidak lain karena Pram menganggap suasana saat itu sungguh genting.

Persoalan baginya adalah “memukul atau dipukul” dan peristiwa 1965 yang kemudian mengubah hidupnya secara drastis menjadi bukti bahwa pendapatnya tidak salah. Tidak semua karyanya, baik berupa monografi sejarah atau kumpulan bahan sejarah, seperti antologi sastra pra-Indonesia, kumpulan cerita pendek Soekarno, dan dua jilid sambungan Panggil Aku Kartini Sadja dapat diterbitkan. Kerja kreatif ini terhenti ketika “Orde Baru” menyerbu dan menghancurkan rumahnya pertengahan Oktober 1965.

Di Pulau Buru ia melanjutkan kerja raksasa ini. Ia ingin terus menulis sejarah, “tapi karena takut dikira memalsu sejarah, saya memilih novel,” katanya. Ia tidak salah pilih. Melalui Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah ia memperlihatkan bahwa Indonesia dibangun dari keinginan melawan ketidak adilan yang berakar pada kolonialisme dan tradisi feodal Timur.

Nasional Indonesia digambarkannya sebagai sebuah proyek politik yang tumbuh dalam masyarakat jajahan. Ia harus dibela dan dirawat untuk berkembang. Rumah Kaca menjelaskan mengapa kisah dalam tiga buku pertama seperti bukan berasal dari “sejarah Indonesia” yang kita kenal.

Kepulangan Marxisme?

Bagi Pram, pembelaan terhadap Indonesia dimulai dengan merebut kembali pengetahuan tentang masa lalu yang selama ini dikuasai penguasa kolonial dan para pengikutnya di zaman merdeka. Dekolonisasi pikiran ini dilakukannya tidak hanya dengan menulis tapi juga dengan membuat bahan sejarah dalam bahasa Indonesia, misalnya dengan menerbitkan kembali karya sastra berbahasa Melayu pra-Indonesia, seperti Hikajat Siti Mariah dan Tempo Doeloe. Ia juga gencar memperkenalkan tokoh yang disingkirkan oleh kekuasaan kolonial, seperti RM Tirto Adhi Soerjo dan memperkenalkan segi-segi yang diabaikan dari tokoh terkemuka seperti RA Kartini.

Karena itu, sungguh tragis ketika ia kemudian disingkirkan dan dianiaya seperti tokoh-tokoh yang ia tulis. Tragis bagi Pramoedya, tragis bagi Indonesia, karena hanya membuktikan bahwa Orde Baru tidak lain adalah kelanjutan dari negara kolonial. Baginya, setelah Soeharto jatuh tidak ada perubahan yang berarti. Rumah dan naskah-naskahnya yang dirampas dan tidak pernah dikembalikan sampai jenazahnya diturunkan ke liang lahat, menjadi simbol bahwa kekuasaan congkak yang sama masih tegak. Tapi Pram tak pernah tunduk hingga akhir hayatnya.

Selamat jalan Pram! Obor yang kau nyalakan di malam gelap, akan digenggam dari generasi ke generasi kemudian.

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *