Edisidot.id – Semua agama tentu mengajarkan penganutnya untuk berbuat baik kepada sesama, berbuat baik bukan saja kepada manusia namun juga kepada binatang, tumbuhan hingga seluruh alam disekitar.
Tahukah anda ternyata berbuat baik bermanfaat bagi kesehatan mental orang yang melakukannya. Berikut ini penjelasan ilmu pengetahuan dan hasil penelitian yang telah dipublikasikan.
Studi terbaru menunjukan bahwa suasana hati orang cenderung meningkat setelah mereka berbagi atau menolong sesama.
Bahkan, berbuat baik dinilai lebih efektif mengurangi gejala depresi dan gangguan kecemasan dibandingkan hanya memberikan terapi kognitif perilaku (CBT) kepada mereka yang mengalaminya.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Positive Psychology, hubungan sosial berperan penting mendongkrak kesejahteraan mental karena menumbuhkan “rasa saling memiliki dan kedekatan” yang dibutuhkan manusia.
Sebaliknya, seringkali orang depresi menarik diri dari pergaulan disekitarnya. Beberapa pendekatan CBT memang sudah menerapkan sesi kelompok, namun belum cukup untuk meningkatkan kedekatan sosial di antara peserta terapi yang ada.
Penelitian terdahulu telah menunjukkan berbuat baik dapat memperkuat hubungan sosial yang sering dikaitkan dengan kebahagiaan. Namun, baru kali ini ada kajian ilmiah yang memberikan perhatian serius terhadap efek kebaikan pada orang dengan gejala depresi dan kecemasan.
Seperti yang dipublikasikan oleh tim peneliti dari Ohio State University, Amerika Serikat, mereka membagi 122 subjek penelitian menjadi tiga kelompok untuk melakukan aktivitas sosial selama lima minggu.
Para peserta sudah resmi didiagnosis mengidap depresi, gangguan kecemasan atau keduanya, bahkan gejala yang mereka rasakan juga cukup parah.
Kelompok pertama diminta bersama-sama merencanakan kegiatan yang ingin mereka lakukan dua kali seminggu. Selanjutnya, peserta kelompok lain harus meluangkan setidaknya dua hari dalam seminggu untuk menuliskan seluruh perasaan mereka saat itu.
Metode ini dianjurkan oleh para psikolog karena bisa membantu orang memahami dan mengendalikan pola pikir negatif. Tugas yang dilaksanakan kedua kelompok biasa diterapkan dalam sesi CBT.
Kelompok terakhir diarahkan untuk melakukan “hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain, atau bisa membuat mereka bahagia”.
Para peserta bebas memilih kebaikan seperti apa yang ingin mereka berikan kepada sesamanya. Mereka dapat melakukannya seminggu dua kali, beberapa peserta ada yang mengaku memberi tumpangan, sedangkan yang lain membuatkan kue atau menulis surat untuk orang terdekat dan sebagainya.
Tim peneliti lalu mengevaluasi kesejahteraan mental peserta di minggu terakhir percobaannya. Mereka mengukur refleksi diri peserta mengenai kondisi psikis, kepuasan hidup dan kedekatan yang dirasakan lima minggu kemudian.
Rata-rata, dari ketiga kelompok mengungkapkan gejala depresi dan kecemasan yang mereka hadapi tidak separah sebelum mengikuti percobaan. Para peserta juga mengaku hidupnya lebih menyenangkan, peningkatan ini bertahan selama lima minggu setelah eksperimen berakhir.
“Hasilnya menunjukkan ketiga bentuk intervensi efektif mengurangi tekanan batin dan meningkatkan kepuasan hidup,” demikian bunyi studi terdebut. Selain itu, peningkatan signifikan pada kedua metode (menuangkan pikiran) dan aktivitas sosial bisa dijadikan perbandingan yang kuat untuk aksi kebaikan.
Artinya, berbuat baik tidak dikontraskan dengan kondisi yang memperburuk kesehatan mental. Walau semua peserta mengalami peningkatan suasana hati, efeknya paling kentara pada kelompok yang menebarkan kebaikan.
Cuma anggota kelompok ini yang merasakan kedekatan lebih dalam dengan orang lain. Para peneliti menduga penyebabnya karena pikiran akan teralihkan ketika seseorang fokus melakukan sesuatu untuk orang lain.
Mungkin ada anggapan terlalu berlebihan jika menyuruh orang depresi untuk mementingkan kebahagiaan orang lain, padahal mereka sendiri sedang mengalami masalah mental.
Akan tetapi, temuan dari penelitian ini justru menunjukkan bahwa berbuat baik setidaknya dapat mengusir emosi negatif yang dialami seseorang.
Studi ini menyoroti potensi manfaat klinis dari aksi kebaikan. Diperlukan penelitian-penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi bisa tidaknya hal tersebut diaplikasikan dalam teknik berbasis bukti.

Komentar