Selama ini diketahui bahwa rata-rata hari kerja bagi pekerja di seluruh dunia adalah 5 hari dalam seminggu, bahkan di Indonesia tidak sedikit pula yang bekerja hingga 6 hari. Dalam sebuah penelitian di Inggris, coba menguji hari kerja menjadi 4 hari dalam seminggu dan keterkaitannya dengan kondisi pekerja serta tingkat produktifitas perusahaan.
Sebanyak 61 perusahaan di Inggris Raya melakukan uji coba dengan menerapkan kerja 4 hari dalam sepekan selama enam bulan berturut-turut pada Juni 2022 lalu.
Karyawan mendapatkan potongan 20 persen dari jam kerja yang diterapkan sebelumnya dengan gaji utuh tanpa ada perubahan. Disamping itu, perusahaan tetap memperhatikan kinerja setiap individu.
Hasil uji coba itu telah keluar dan diterbitkan dalam situs 4 Day Week Global. Uji coba yang dipimpin oleh nirlaba 4 Day Week Global ini dilakukan sehubungan dengan kampanye UK’s 4 Day Week Campaign. Penelitian dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Cambridge, Boston College dan lembaga think tank Autonomy.
“Kami merasa sangat terdorong oleh hasil yang menunjukkan banyak cara perusahaan mengubah empat hari sepekan dari mimpi menjadi kebijakan yang realistis, dengan banyak manfaat,” Dr David Frayne, Ilmuwan dari University of Cambridge.
Ada sekitar 2.900 karyawan dari berbagai industri yang dilibatkan dalam penelitian ini, mulai dari karyawan TI, layanan keuangan, di bidang kesehatan, hingga toko ikan dan keripik. Sekitar tiga uji coba berlangsung, semuanya tampak baik-baik saja. Bahkan, hasil laporan perusahaan menunjukkan dampak positif.
Sementara itu, berdasarkan hasil uji coba secara keseluruhan menunjukkan bahwa kesejahteraan karyawan meningkat secara signifikan. Sekitar 71 persen karyawan mengaku tingkat burnout, atau kondisi tubuh kelelahan dan stres karena pekerjaan, menurun saat bekerja empat hari dalam sepekan. Sebanyak 39 persen karyawan mengaku stresnya juga berkurang.
Staf juga melaporkan peningkatan work life balance, di mana 62 persen peserta merasa lebih mudah untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan sosial. 60 persen meresa lebih mampu menyimbangkan antara pekerjaan dan tanggung jawab merawat keluarga atau diri sendiri.
Karyawan juga mengalami peningkatan kesejahteraan. Peningkatan ini didukung oleh berkurangnya laporan karyawan yang sakit sebesar 65 persen. Tren positif ini ternyata berimplikasi pada pendapatan perusahaan yang sedikit mengalami peningkatan, rata-rata 1,4 persen, sehingga pemangkasan hari kerja terbukti tidak mengganggu produktivitas.
Dengan hasil positif ini, 92 persen perusahaan bersedia untuk menerapkan 4 hari kerja dalam sepekan di luar uji coba, di mana 18 perusahaan di antaranya telah menerapkannya secara permanen.
“Sebelum uji coba, banyak yang mempertanyakan apakah kami akan melihat peningkatan produktivitas untuk mengimbangi pengurangan waktu kerja, tetapi inilah yang kami temukan,” tambah Profesor Brendan Burchell, yang memimpin penelitian di University of Cambridge.
“Secara pribadi sangat menggembirakan bagi saya, hanya berbicara dengan begitu banyak orang yang bersemangat selama enam bulan terakhir. Empat hari sepekan berarti kehidupan kerja dan kehidupan keluarga yang lebih baik bagi begitu banyak orang.” tutupnya.

Komentar