Lombok Barat- Dinas Ketahan Pangan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), melakukan sosialisasi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA) berbasis pangan lokal.
Kegiatan tersebut dilakukan di Desa Montong Are, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, dalam rangka mendukung program Pejabat (PJ) Gubernur NTB H Lalu Gita Ariadi, bertajuk “Jum’at Salam”. Kamis (16/11/23).
Dalam sambutannya, Kadis DKP Provinsi NTB H. Abdul Azis menekankan bahwa salah satu cara mengatasi permasalahan kesehatan gizi buruk anak usia dini adalah dengan cara mengkonsumsi Pangan B2SA.
Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan orang tua asuh mengenai pentingnya Pangan dan Gizi.
“Untuk mewujudkan generasi yang sehat, aktif, cerdas dan produktif” Kata Kadis DKP Provinsi NTB H. Abdul Azis, SH. MH
Dalam kegiatan tersebut, H. Abdul Azis mengatakan, peserta sosialisasi berasal dari perangkat Desa, perwakilan TP PKK, Kader Posyandu dan Masyarakat Desa Montong Are.
“Dengan jumlah peserta 100 Orang” Terang H. Abdul Azis
Dalam kegiatan itu juga hadir Ahli Gizi Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Kediri Musliharis sebagai narasumber.
Dalam kesempatannya, Musliharis menyampaikan bahwa Pangan B2SA adalah aneka ragam bahan pangan, baik sumber karbohidrat, protein, lemak, maupun vitamin dan mineral.
“Yang bila dikonsumsi dalam jumlah berimbang dapat memenuhi kecukupan gizi yang dianjurkan” Ungkap Musliharis Ahli Gizi PKM Kediri
Selain itu, Musliharis juga menjelaskan, kalau makan tidak boleh asal kenyang tapi harus diperhatikan keberagaman, kandungan gizinya dan porsi atau jumlah konsumsi per kelompok pangan.
“Makanan yang dikonsumsi harus aman, artinya bebas dari kemungkinan cemaran benda lain atau fisik, kimia, dan biologis” Ungkap Musliharis.
Mengingat dampak dari konsumsi pangan dengan gizi yang tidak seimbang, Musliharis mengatakan bisa menyebabkan Gizi Kurang yang berakibat pertumbuhan terhambat, stunting, wasting, kecerdasan kurang, produktivitas hidup terganggu.
“Disamping itu Gizi Lebih juga berakibat tidak baik, karena bisa menyebabkan kelebihan berat badan (obesitas) yang bisa memicu penyakit degeneratif” Tegas.
Untuk itu, Musliharis menyampaikan bahwa piring B2SA menjadi pedoman sederhana dalam menerapkan prinsip B2SA untuk menyusun menu makanan sehari-hari.
“Piring berisi sajian sekali makan, terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan dalam porsi seimbang sesuai kebutuhan tubuh (tergantung usia, jenis kelamin, berat badan, aktivitas, dan lain lain)” Ungkapnya.
Lebih jauh, Musliharis mengatakan penerapkan pola konsumsi pangan yang B2SA tidak harus membeli, tetapi bisa diusahakan dari pekarangan rumah sendiri.
“Yang ditanami aneka sayuran, buah-buahan dan beternak ayam, ikan, lele, dan lain lain” Imbuh Musliharis
“Selain itu pangan pokok tidak harus nasi, bisa dari sumber-sumber pangan lokal seperti jagung, sorgum, singkong, ubi jalar, ganyong, sukun, dan lain lain” Sambungnya.
Sosialisasi diakhiri dengan penyerahan Merchandise B2SA berupa Lunchbox kepada Anak-Anak stunting di Desa Montong Are.

Komentar