Advertisement Advertisement
Anak Muda Liputan
Home » Berita » Populasi Jomblo di Indonesia Terus Meningkat, Jumlahnya Capai 42 Juta Jiwa

Populasi Jomblo di Indonesia Terus Meningkat, Jumlahnya Capai 42 Juta Jiwa

Edisidot.id – Angka jomblo di kalangan anak muda Indonesia terus meningkat, banyak dari mereka yang justru ingin menunda pernikahan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2021 presentase jomblo untuk usia 16-30 sebesar 61.09 persen atau sekitar 42 juta jiwa.

Presentase ini mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, yaitu 59,82 persen. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan populasi jomblo terbesar di Asia Tenggara.

Sedangkan jumlah pemuda yang memutuskan untuk menikah justru menurun di angka 37,7 persen di tahun yang sama. Selama 10 tahun terakhir, kenaikan pemuda yang jomblo mengalami kenaikan hampir mendekati 10 poin.

BPS menjelaskan jika kondisi tersebut berkaitan dengan adanya perbaikan kualitas hidup, terutama dari pendidikan dan status ekonomi. Kedua hal ini memiliki korelatif negatif dengan keputusan kapan akan meihkah, terlebih bagi perempuan.

Alasan lain adalah karena adanya kebijakan pemerintah yang menaikan batas usia minimal perkawinan melalui UU Tahun 2019, yaitu minimal 19 tahun, baik pria ataupun wanita.

DPRD Lombok Tengah Setujui Ranperda Perubahan Susunan Perangkat Daerah

Fakta menarik juga ditemukan aplikasi kencan terbesar di Asia, Lunch Actually, menyebutkan bahwa terdapat 58% orang Indonesia belum kencan selama setahun terakhir. Menurut aplikasi tersebut, hal ini dikarenakan keinginan para jomblo masih menghadapi banyak tantangan ketika berkencan dan mencari seseorang yang spesial bagi mereka.

Dalam survei yang dilakukan pada 350 jomblo di Indonesia tahun 2022 yang bertujuan untuk memberikan wawasan baru tentang lingkup kencan, perilaku, situasi keuangan, dan prioritas hidup para jomblo.

Hasilnya, dari 350 jomblo di Indonesia yang ikut survei, 58% jomblo tidak percaya dengan seks sebelum pernikahan, hasil survei ini juga merupakan yang tertinggi di antara 5 negara Asia lainnya.

Tidak hanya itu, diketahui juga bahwa 65% jomblo yang ikut survei masih percaya bahwa laki-laki yang harus membayar untuk kencan. Dan hanya 24% jomblo setuju untuk split bill atau membayar sendiri-sendiri.

Kondisi ekonomi paling banyak disorot, sekitar 49% diantaranya mengatakan penting untuk mengetahui situasi keuangan pasangan mereka sebelum menjalin hubungan.

Dewan Minta Nakes Lombok Tengah Tahan Diri, Ingatkan Konsekuensi Mogok Kerja

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *