Untuk Apa?
untuk apa kau berdiri di depan pintu
bila yang datang cuma cemas
duduklah di kursi goyangmu
sambil minum teh dingin yang
sedari semalam kau seduh
dengan takut dan khawatir
yang lebih banyak dari airnya
sambil menatap jendela
kadang rindu bekerja
tidak profesional
kau menunggu
tanpa diberitahu
kedatangan
Hal Mungil
hari ini matahari tak
muncul. langit menjelma
selembar warna abu. iya,
selembar saja. menggelar
sedih. menimang kenang.
mengubur lampau. yang
di bawanya hanya
sekarang. hidup yang
singkat. dipadati hal-hal.
aku, kamu—merupakan
hal kecil dari halaman yang
berjarak beberapa lembar
Waktu Begitu Tergesa
aku ingat kelas belajar
mewarnai dengan baik
waktu itu, ibu guru bilang
“yang sudah selesai,
buku gambarnya ditutup, ya!”
awal-awal mewarnai
banyak yang salah
kutanya ibu guru,
bolehkah satu lembar ini
kurobek, lalu kuulang mewarnai?
“jangan, mulai saja di lembar
berikutnya, biarkan itu menjadi
peljaran supaya tahu
mana yang harus diperbaiki”
belakangan waktu tumbuh
begitu tergesa-gesa, dan aku
semakin paham mengapa
selembar semberaut itu tak jadi kurobek
Menangislah, Puisi
aku tidak tahu
harus berterima kasih
atau apa, sebab kepada
luka aku tahu cara mencintai
dengan baik
aku tidak tahu
harus bagaimana
sebab kepada luka aku paham
menjadi manusia lebih baik
memberi daripada mengambil
aku mengerti
setelah berkenalan
dengan luka aku
tak begitu yakin
ada kaki yang sanggup
melangkah lebih jauh
dengan sepatu yang dipaksakan
sebab luka pernah
mengajariku
bahwa tak ada
yang sebanding
dengan sebuah nyawa
Albaniatsaury (Penulis), seorang mahasiswa di Kota Malang. Sambangi Al di twitter @albaniatsaury atau Email laluatsaury@gmail.com

Komentar