Advertisement Advertisement
Puisi Puisi dan Cerpen
Home » Berita » Menangislah, Puisi

Menangislah, Puisi

Untuk Apa?

untuk apa kau berdiri di depan pintu
     bila yang datang cuma cemas
         duduklah di kursi goyangmu
             sambil minum teh dingin yang
                 sedari semalam kau seduh
                      dengan takut dan khawatir
                          yang lebih banyak dari airnya
                              sambil menatap jendela
                                   kadang rindu bekerja
                                      tidak profesional
                                          kau menunggu
                                              tanpa diberitahu
                                                                    kedatangan

Hal Mungil

hari ini matahari tak
       muncul. langit menjelma
selembar warna abu. iya,
       selembar saja. menggelar
sedih. menimang kenang.
       mengubur lampau. yang
di bawanya hanya
       sekarang. hidup yang
singkat. dipadati hal-hal.
       aku, kamu—merupakan
hal kecil dari halaman yang
       berjarak beberapa lembar

Waktu Begitu Tergesa

Sudut Ramadhan Kita Puisi Chania Ditarora

aku ingat kelas belajar
     mewarnai dengan baik
waktu itu, ibu guru bilang
     “yang sudah selesai,
buku gambarnya ditutup, ya!”
     awal-awal mewarnai
banyak yang salah
     kutanya ibu guru,
bolehkah satu lembar ini
     kurobek, lalu kuulang mewarnai?
“jangan, mulai saja di lembar
     berikutnya, biarkan itu menjadi
peljaran supaya tahu
     mana yang harus diperbaiki”
belakangan waktu tumbuh
     begitu tergesa-gesa, dan aku
semakin paham mengapa
     selembar semberaut itu tak jadi kurobek

Menangislah, Puisi

aku tidak tahu
       harus berterima kasih
atau apa, sebab kepada
       luka aku tahu cara mencintai
dengan baik

aku tidak tahu
       harus bagaimana
sebab kepada luka aku paham
       menjadi manusia lebih baik
memberi daripada mengambil

aku mengerti
       setelah berkenalan
dengan luka aku
       tak begitu yakin
ada kaki yang sanggup
       melangkah lebih jauh
dengan sepatu yang dipaksakan

Puisi – Perutnya yang Rumah

sebab luka pernah
       mengajariku
bahwa tak ada
       yang sebanding
dengan sebuah nyawa

 

Albaniatsaury (Penulis), seorang mahasiswa di Kota Malang. Sambangi Al di twitter @albaniatsaury atau Email laluatsaury@gmail.com

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *