Pemerintah Indonesia tidak pernah menempatkan riset sebagai prioritas utama. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya alokasi dana untuk penelitian dalam anggaran nasional.
Meski pemerintahan “Jokowi” Widodo sendiri telah meningkatkan anggaran penelitian menjadi 0.2 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia di tahun 2017, atau sekitar Rp 24,9 triliun. Walaupun meningkat, alokasi penelitian Indonesia masih menjadi salah satu yang paling rendah di dunia.
Bahkan di Asia Tenggara saja, secara persentase Indonesia kalah bersaing dengan Malaysia dan Vietnam. Data terbaru menunjukkan Thailand menganggarkan 0,5 persen dari PDB-nya untuk dana penelitian, sementara Vietnam menganggarkan 0,4 persen. Pemerintah hingga kini belum memenuhi janji meningkatkan anggaran penelitian menjadi lebih besar dari 1 persen dari total PDB.
Untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut di Indonesia, pemerintah telah mengalokasikan dana abadi sebesar Rp 990 miliar untuk keperluan penelitian. Dana ini dialokasikan diluar anggaran nasional.
Sementara, bantuan sektor swasta masih terbatas karena sejumlah permasalahan, seperti kurangnya kesadaran akan pentingnya penelitian dari pelaku industri, kurangnya insentif, dan kurangnya kebijakan terkait. Diketahui perusahaan swasta baru menyumbang sekitar Rp 6 triliun, atau hanya sekitar 20 persen dari total pengeluaran penelitian di Indonesia.
Jika berkaca dari negara lain, maka kondisi Indonesia terbalik. Dana penelitian dari sektor swasta bahkan menyumbang 80 persen, sedangkan di Indonesia hanya menyediakan 20 persen.
Jika ingin belajar dari negara lain, maka Jerman adalah salah satu negara yang patut dicontoh. Jerman berinvestasi banyak dalam penelitian dan pengembangan riset. Publikasi terbaru dari German Academic Exchange Service (DAAD) menyebutkan mereka menginvestasikan sekitar 90,3 miliar euro atau sekitar 2.9 persen dari total GDP mereka. Angka ini menempatkan Jerman di antara 10 negara di dunia dengan pengeluaran terbanyak untuk penelitian.
Hal paling menakjubkan dari industri penelitian Jerman ialah besarnya dukungan sektor swasta. Tahun 2015, investasi dari pelaku industri hampir menyentuh angka 70 persen dari keseluruhan investasi.
Perusahaan-perusahaan besar telah berpartisipasi dalam membangun penelitian di Jerman. Mereka biasanya ikut membiayai proyek di universitas dan institusi penelitian untuk mengembangkan produk yang dapat membangun bisnis mereka.
Diketahui dalam salah satu publikasi terbaru berjudul The German Research Landscape yang diterbitkan oleh DAAD menunjukkan bahwa investor terbesar dalam penelitiannya datang dari industri automotif Jerman. Mereka bahkan menghabiskan sekitar 22 miliar euro hanya untuk penelitian.
Padahal tidak ada regulasi yang mewajibkan perusahaan untuk berinvestasi dalam riset. Perusahaan-perusahaan besar berinvestasi secara sukarela agar mereka bisa lebih kompetitif dan sukses. Besarnya dukungan dari sektor swasta adalah implikasi dari beragamnya sistem inovasi nasional.
Sistem ini dijalankan dengan bantuan kuat dari lembaga riset universitas dan non-universitas yang merupakan badan penting dalam mengembangkan industri riset Jerman. Lembaga-lembaga riset ini mendapatkan bantuan finansial tidak hanya dari perusahaan swasta tapi juga dari negara.
Bantuan langsung pemerintah untuk penelitian dan pengembangan, sebagian besar dalam bentuk pendanaan proyek, hanyalah salah satu dari elemen penting dalam ekosistem inovasi yang terjadi di Jerman.
Dalam kasus Indonesia, perusahaan swasta seharusnya lebih terlibat dalam membangun industri riset. Sebab keterlibatan pelaku industri dalam penelitian akan menghasilkan penelitian yang berkualitas tinggi.
Sebab perusahaan-perusahaanlah yang lebih tahu apa yang publik inginkan. Dengan bekerja sama akan bisa melakukan penelitian yang benar-benar publik butuhkan. Namun faktanya tidak banyak perusahaan di Indonesia yang mau berinvestasi di penelitian. Padahal riset sendiri sangatlah penting dalam dunia bisnis.
Penelitian dapat menjamin keberlanjutan sebuah perusahaan baik dalam jangka pendek maupun panjang. Kerja sama dengan pemerintah juga dapat memberikan perusahaan kesempatan untuk membahas kebijakan yang mungkin mempengaruhi bisnis.
Statistik telah membuktikan negara-negara yang memiliki industri penelitian maju mendapat dukungan yang besar dari industri swasta. Terbukti hampir 80 persen dari pengeluaran riset oleh tiga negara dengan pengeluaran riset terbanyak seperti Korea Selatan, Israel, dan Jepang berasal dari perusahaan swasta.
Shulhi Rinjani (Penulis) menetap di Lombok Barat, menggeluti isu-isu ekonomi politik serta kedaulatan lingkungan.

Komentar