Advertisement Advertisement
Budaya Liputan
Home » Berita » Keseruan Tradisi Perang Api di Mataram, Sambut Hari Raya Nyepi

Keseruan Tradisi Perang Api di Mataram, Sambut Hari Raya Nyepi

Mataram – Perang api atau disebut juga perang bobok yang dilaksanakan di persimpangan Tugu Tani, Jalan Pejanggik, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram berlangsung sengit.

Tradisi ini merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan dalam rangka menyambut hari raya Nyepi di Pulau Lombok.

Seperti biasa, perang api ini dilaksanakan saat sore hari atau setelah pawai ogoh-ogoh.

Menurut Komang Katayasa, salah satu Pecalang di Kelurahan Sweta menerangkan bahwa perang api ini dilakukan dengan cara menghadapkan dua kelompok pemuda asal Negara Sakah dan Sweta.

Kedua kelompok pemuda itu pun sama-sama membawa bobok atau senjata yang terbuat dari daun kelapa kering yang kemudian dibakar.

DPRD Lombok Tengah Setujui Ranperda Perubahan Susunan Perangkat Daerah

“Kemudian kedua kubu saling menyerang. Tentunya, bobok yang dibakar ini dapat menimbulkan luka,” ungkapnya.

Walaupun begitu, setiap kali acara ini berlangsung, baik penonton maupun yang berperang sangat antusias dan semangat.

“Karena ini memang tradisi yang memang setiap tahun kami lakukan. Tidak berani ndak dilakukan,” lanjut Komang Katayasa.

Ia juga menjelaskan bahwa, meskipun konteksnya berperang, dua kelompok pemuda tersebut tidak benar-benar bermusuhan.

“Setelah api padam, kemudian itulah senagai pertanda perang telah berakhir,” urainya.

Dewan Minta Nakes Lombok Tengah Tahan Diri, Ingatkan Konsekuensi Mogok Kerja

Setelah acara usai pun, kedua kubu tidaklah menyimpan dendam, karena memang perang tersebut dilakukan sebagai ritual turun-temurun.

“Selsai perang maka mereka tetap saling merangkul, bisa dilihat seperti tadi itu. Aman-aman saja,” jelas Komang Katayasa.

Ia pun mengatakan bahwa perang tersebut bertujuan untuk menolak balak wabah yang terjadi di dunia.

Oleh karena itu, perang api ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pemuda yang ingin berpartisipasi dalam perang api harus menyiapkan diri dengan baik secara fisik maupun mental.

“Yang mau ikut juga tidak bisa sembarangan, takutnya nanti mereka ada dendam kan bahaya,” imbuhnya.

Tastura Mengajar dan Sekdilu 31, Nyalakan Api Pendidikan di Pelosok Lombok Tengah

Sehingga hal itu dilarang, karena simbolisasi dari perayaan ini adalah mengusir hal-hal buruk yang dapat menjadi malapetaka.

“Jadi seluruh rangkaian acara harus dilaksanakan dengan niat baik dan hati bersih,” tandas Komang Katayasa.

Sementara itu, Kapolsek Sandubaya Kompol Moh Nasrullah mengatakan pihaknya menerjunkan personel sebanyak 300 anggota untuk mengamankan perayaan perang api tersebut.

Dirinya pun mengungkapkan bahwa perang api tahun ini berjalan dengan lancar, tertib dan terkendali.

“Seperti yang dilihat tadi situasinya aman dan terkendali,” pungkas Kompol Moh Nasrullah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *