Advertisement Advertisement
Esai
Home » Berita » Piala Dunia U-20 Gagal, Sepakbola NTB Berbaring, Tidur atau Bangkit?

Piala Dunia U-20 Gagal, Sepakbola NTB Berbaring, Tidur atau Bangkit?

Saya menggunakan diksi ‘bangkit’ menggambarkan sepak bola kita. Jika ada upaya bangkit berarti ada aktivitas tidur atau berbaring.

Analogi sepakbola kita saat ini barangkali sedang tertidur/berbaring. Ia bisa dibangunkan atau dibangkitkan kembali. Seperti geliat sepakbola NTB bisa dikatakan mulai menggembirakan.

Walaupun ditundanya Liga 2 pasca tragedi Kanjuruhan tak membuat geliat sepakbola NTB sendat. Pemain bintang liga memanfaatkan turnamen tarkam sebagai turnamen pengisi kekosongan. Termasuk juga di NTB jadi bidikan para pemain.

Begitu pula polemik Piala Dunia U-20 yang sejatinya di Indonesia dibatalkan, nyaris tak memberi dampak bagi pesepakbolaan NTB.

Tengok saja sekelas liga tarkam di Pulau Sumbawa, Piala Gubernur di Sape, Bima beberapa bulan lalu. Pulau Lombok Turnamen Kades Cup Kembang Kerang, Aik Mel, Lombok Timur, Larpa Cup Tanjung Teros Lombok Timur, Bau Nyale Cup Lombok Tengah, Turnamen Gunung Sari Cup, Perang Bintang Selagalas, dan Hj. Sumiatun Cup, Lombok Barat.

Biarkan Hukum Berjalan di Atas Relnya

Antusiasme pemain-pemain bintang berbanding lurus dengan animo masyarakat menonton pertandingan. Beberapa pemain Timnas seperti Tibo dan Patrick Wanggai menjadi daya tarik penonton. Begitu pula pemain bintang lokal yang sebelumya berlaga di liga 3 masing-masing Provinsi turut menjadi magnet bagi masyarakat pecinta bola untuk menyaksikan pemain dan klub jagoan mereka.

Tak terkecuali pada turnamen Hj Sumiatun yang akan dilanjutkan usai lebaran akan menjadi adu gengsi pemain-pemain muda potensial. Sebut saja eks pemain Peerseden (Denpasar) Perselobar (Lombok Barat), Lombok FC serta lainnya akan membuat turnamen kian kompetitif.

Dengan melihat banyaknya turnamen Tarkam dengan segudang pemain muda berbakat, semestinya mampu melahirkan klub-klub hebat. Namun faktanya sampai detik ini belum ada satu pun klub NTB yang mentas di liga 1 Nasional. Padahal potensi kita teramat besar.

Lantas, apakah ada yang salah dalam sistem pembinaan sepakbola NTB? Sehingga sepakbola kita belum bisa berbuat banyak di level nasional.

Saya sebagai pecinta sepakbola NTB tak mampu menjawabnya. Namun melihat fakta kian terorganisirnya PSSI baik Asprov dan Askab menyelenggarakan liga, ke depan sepakbola kita bisa bangkit. Tentu saja dengan dukungan dari kita semua. Baik Pemprov, Pemkab, melalui KONInya dapat menggandeng perusahaan-perusahaan yang ada di NTB.

Prospek NTB sebagai New Economic Hub: Sebuah Proposisi

Perusahaan, dengan program CSRnya diharap mampu mengambil peran lebih untuk sepakbola NTB. Kolaborasi perusahaan dengan pemerintah minimal bisa membangun 2 stadion berstandar FIFA. Satu di pulau Lombok dan satu di Pulau Sumbawa.

Dengan adanya stadion standar Internasional diharap bisa memacu semangat pemain maupun klub yang ada di NTB. Mereka akan berlomba-lomba memajukan sepakbola NTB.

Catatan ini bukan utofia, tapi bisa diwujudkan. Membersamai Trio PS. Mantang Fikry Virgiawan Lalu Yogik dan Reza Julian didampingi Head Coach Baron Aj saya termenung dan merasa optimis sepakbola kita bisa bangkit. Wallahu’alam

Chania Ditarora (Penulis) Seorang guru madrasah ibtidaiyah di Mantang, Lombok Tengah.

Balai Mediasi Desa: Langkah Awal Mewujudukan Ketertiban dan Keamanan NTB

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *