Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Indonesia merilisi survei tingkat gemar membaca (TGM) pada 8 maret 2023. Survei ini menjelaskan TGM di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia tahun 2022 lalu.
Dari hasil survei itu, diketahui provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berada di urutan ke-26 dengan skor 60,97 dari 34 provinsi. Posisi NTB masih tertinggal dibawah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berada di posisi ke-14 dengan skor 64,84 dan Bali di posisi ke-11 dengan skor 65,59.
Sementara DI Yogyakarta masih menjadi provinsi dengan minat membaca tertinggi di Indonesia dengan skor mencapai 72,29. Dilanjut Jawa Tengah 70,96, dan Jawa Barat dengan 70,10.
Perpusnas juga mengkalsifikasikan TGM menjadi empat kategori, yakni kategori sangat tinggi (80,1-100), tinggi (60,1-80), sedang (40,1-60), rendah (20,1-40), dan sangat rendah (00-20). Dengan demikian, maka provinsi NTB masuk dalam kategori sedang.
Secara nasional TGM masyarakat Indonesia sebesar 63,9 poin pada 2022. Skor tersebut meningkat 7,4% pesat jika dibandingkan setahun sebelumnya yang hanha sebesar 59,52 poin.
Adapun komponen penyusun indeks minat baca tersebut adalah frekuensi membaca, jumlah bahan bacaan, durasi membaca, frekuensi akses internet, dan durasi akses internet.
Berikut 10 daerah dengan TGM tertinggi pada 2022:
DI Yogyakarta 72.29 poin
Jawa Tengah 70.96 poin
Jawa Barat 70.1 poin
DKI Jakarta 68.71 poin
Jawa Timur 68.54 poin
Sulawesi Selatan 67.62 poin
Sumatera Barat 66.87 poin
Kalimantan Timur 66.84 poin
Aceh 65.85 poin.
Perlu diketahui juga, menurut laporan tim peneliti Bank Dunia, sebanyak 48% anak usia sekolah dasar (SD) di seluruh dunia belum mampu membaca dengan pemahaman komprehensif (read with comprehension).
Read with comprehension adalah kegiatan membaca untuk menyerap informasi dan memahami makna teks secara utuh.
Kemampuan yang tercakup di sini adalah memahami gagasan utama serta hal-hal detail dari sebuah bacaan, seperti mengenali urutan, sebab-akibat, serta hubungan antara berbagai keterangan yang terkandung dalam teks.
Dengan membaca secara komprehensif, anak diharapkan bisa menghubungkan hasil bacaan dengan pengetahuan lain atau pengalaman pribadinya, membuat penafsiran, serta membuat kesimpulan atau penilaian tentang apa yang dibaca.
Bahkan, sampai tahun 2019 sebanyak 90% anak-anak usia SD di negara berpenghasilan rendah belum memiliki kemampuan membaca tersebut. Sementara di negara berpenghasilan tinggi, anak-anak yang belum mampu membaca secara komprehensif hanya 9%.
Beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan anak dalam membaca adalah kurangnya penguasaan kosakata, rendahnya motivasi membaca, rendahnya kompetensi guru, serta lingkungan keluarga yang kurang kondusif.
Anak-anak yang kurang mampu memahami bacaan diperkirakan akan terhambat dalam mempelajari matematika, sains, dan ilmu sosial.

Komentar